Iri Hati

iri-hati

Ayat bacaan: Yakobus 3:16
======================
“Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.”

Rasa iri hati termasuk jenis perasaan negatif yang mudah menyerang manusia.

Iri hati adalah sebuah perasaan tidak puas yang timbul akibat keuntungan atau kesuksesan yang diperoleh orang lain.

Iri hati membuat orang merasa tidak nyaman ketika ada orang lain yang lebih darinya.

Tampaknya sepele saja, karena ini mungkin kita alami sehari-hari, mungkin tanpa sadar kita rasakan.

Iri hati bisa terlihat seolah-olah hanyalah sebuah ungkapan kekesalan sesaat yang alamiah, wajar, manusiawi dan tidak berbahaya.

Mobilnya bagus? Itu pasti hasil korupsi. Rumah mewah? Sama. Bajunya bagus? Itu tandanya menyombongkan kekayaan.

Seperti itulah manusia bisa dengan mudah menghakimi orang lain ketika mereka dipenuhi rasa iri. Cibiran dengan mudah dilayangkan hanya karena mereka terlihat lebih dari kita. Tampaknya biasa, tapi sesungguhnya iri hati ini sangatlah berbahaya, dan karenanya kita harus waspada. Iri hati adalah racun dari iblis yang mampu mengubah kasih menjadi kebencian, menghilangkan kasih dan akibatnya melumpuhkan iman dalam kehidupan kita.
Mari kita lanjutkan kisah Daniel kemarin dengan melihat sisi dari para pejabat tinggi dan wakil raja yang iri kepadanya.

Mereka iri melihat bagaimana Daniel tumbuh menjadi orang yang sukses dan berpengaruh karena diberkati Tuhan dengan berlimpah. “Daniel kan hanya orang buangan, kok ia malah lebih hebat dari kita. Itu tidak pantas!” begitulah kira-kira kata hati mereka.

Rasa dengki atau iri yang ada pada diri mereka kemudian membuat mereka mulai berpikir untuk melakukan cara yang keji demi memuaskan rasa iri mereka.

Lihatlah bagaimana akal busuk mereka kemudian. “Kemudian para pejabat tinggi dan wakil raja itu mencari alasan dakwaan terhadap Daniel dalam hal pemerintahan, tetapi mereka tidak mendapat alasan apapun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia dan tidak ada didapati sesuatu kelalaian atau sesuatu kesalahan padanya.” (Daniel 6:5).

Perhatikanlah bahwa rasa iri hati yang tadinya biasa-biasa saja kemudian mengggerakkan para pejabat tinggi dan wakil raja untuk mulai memfitnah dan ingin mencelakakan orang.

Tapi sulit bagi mereka untuk menemukan kesalahan karena Daniel hidup kudus dan bersih dengan disiplin penuh berdoa 3 kali sehari kepada Tuhan. Pola hidup Daniel inilah yang membuatnya diberkati secara luar biasa oleh Tuhan.

Berhentikah mereka sampai disitu? Ternyata tidak.

Rasa iri hati membuat mereka terus berpikir untuk mencelakakan Daniel. Dan akhirnya mereka pun menemukan caranya. “Kita tidak akan mendapat suatu alasan dakwaan terhadap Daniel ini, kecuali dalam hal ibadahnya kepada Allahnya!” (ay 6). Itulah yang mereka pakai dan Daniel pun harus ditangkap dan dilemparkan ke gua singa. “Habislah Daniel sekarang! Ia pasti mati dicabik-cabik dan dimakan singa-singa buas!” Seperti itu kira-kira perasaan mereka yang pasti diliputi rasa gembira yang membuncah.

Tapi kita tahu bahwa yang terjadi tidak seperti itu. Daniel keluar dari gua singat itu sebagai pemenang secara ajaib. Ia tidak lecet sedikitpun. Mengapa? Alkitab mengatakan bahwa Allah telah mengutus malaikatNya untuk menutup mulut singa-singa itu, dan itu karena Tuhan memperhitungkan segala perilaku Daniel sebagai kebenaran. (ay 23).

Orang jahat bisa berencana, tetapi sesungguhnya apa yang penting adalah memastikan bahwa kita berbuat hal yang benar di mata Tuhan.

Lalu apa yang terjadi selanjutnya terhadap para pejabat dan wakil raja yang busuk hatinya itu?  Kita bisa melihat apa yang kemudian menjadi ganjaran. “Raja memberi perintah, lalu diambillah orang-orang yang telah menuduh Daniel dan mereka dilemparkan ke dalam gua singa, baik mereka maupun anak-anak dan isteri-isteri mereka. Belum lagi mereka sampai ke dasar gua itu, singa-singa itu telah menerkam mereka, bahkan meremukkan tulang-tulang mereka.” (Daniel 6:25)

Dari sini kita bisa melihat betapa beratnya konsekuensi yang harus ditanggung sebagai akibat dari iri hati dan dengki.

Oleh karena itu kita harus berhati-hati menjaga hati kita agar jangan sampai kita mudah iri terhadap keberhasilan orang lain. Ingatlah bahwa “apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” (Galatia 6:7).

Iri hati mungkin awalnya terlihat biasa, tetapi itu bisa menggerakkan kita untuk melakukan berbagai dosa yang sangat buruk di mata Tuhan. Dan hal itu sudah diingatkan Tuhan pula di dalam Alkitab. “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” (Yakobus 3:16).

Artinya iri hati akan membuka pintu bagi iblis untuk masuk ke dalam kehidupan kita. Perbuatan jahat apa saja yang akan dibawa iblis melalui pintu yang terbuka ini?

Banyak sekali, mulai dari “sekedar” cemburu, depresi hingga memancing manusia untuk melakukan pembunuhan. Pembunuhan bahkan merupakan akibat fatal yang diawali dari iri hati bahkan sudah terjadi pada awal-awal manusia diciptakan.

Kita lihat apa yang terjadi ketika Kain merasa iri pada saudaranya Habel, bahwa korban persembahannya “kalah”. Hatinya pun panas, dan Wajahnya muram.

Apa kata Tuhan melihat Kain? Mari kita lihat ayat 7. Ini kata Tuhan: “Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” Tuhan berkata: “Kain, dosa sudah mengintip di depan pintu.” Tuhan sudah mengingatkan, tapi Kain tidak mengindahkan. Kita tahu apa yang terjadi kemudian. Kain menyerah pada roh jahat, dan berawal dari iri hati, ia membunuh adiknya (ay 8). Kemudian ada kisah anak-anak Yakub, yakni Yusuf dan saudara-saudaranya di kitab Kejadian 37. Mereka begitu iri pada Yusuf, sehingga mereka berpikir bahwa dengan menyingkirkan Yusuf, hidup mereka akan menjadi lebih baik. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Mereka bahkan harus pergi ke negeri lain agar tidak mati kelaparan. Bukan hanya dua contoh ini saja, ada banyak lagi kisah, akibat dan konsekuensi yang timbul berawal dari iri hati yang dicatat alkitab.

Mulanya cuma iri hati, tapi ketika sikap itu berkembang jauh menguasai hati kita, maka ada banyak dosa yang mengintip, membuat kita buta dan berbuat sesuatu yang bisa fatal akibatnya yang hanya akan kita sesali kelak di kemudian hari.

Iri hati jelas adalah masalah yang serius, yang harus kita singkirkan sepenuhnya, secepatnya, tanpa kompromi. Jika kita menelusuri lebih jauh, ternyata iri hati termasuk salah satu dari keinginan daging yang berlawanan dengan keinginan roh, yang dapat menyebabkan kita kehilangan bagian dalam Kerajaan Allah (Galatia 5:19-21).

Iri hati berada dalam kategori yang sama dengan dosa-dosa yang kita anggap “lebih serius” seperti percabulan, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir dan sebagainya. Alangkah sayangnya jika kita sudah bersusah payah menghindari dosa-dosa itu, namun kita berkompromi pada iri hati yang menyelinap secara diam-diam.

Sudah waktunya bagi kita untuk berhenti mengijinkan iblis membawa kegelapan pada hidup, pekerjaan dan pelayanan kita lewat hal-hal yang seolah ringan seperti iri hati. Adalah bagus jika kita sudah menjauhi dosa-dosa yang berat, tapi alangkah lebih baiknya apabila kita pun memperhatikan dengan seksama segala hal-hal negatif yang mungkin terlihat kecil tapi berpotensi untuk menjerumuskan kita ke dalam kehancuran.

Buang dan jauhkanlah segala bentuk iri hati terhadap orang lain agar kita tidak harus menanggung konsekuensi berat sebagai hukuman atas sikap kita.

Membiarkan rasa iri sama dengan membuka pintu masuk bagi berbagai dosa untuk menghancurkan kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s