Renungan : Iman Pada Yesus

Renungan : Iman Pada Yesus

 

Bacaan Alkitab Setahun : Amsal 21-23

 

Ketika didengarnya bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” (Markus 10:47)
Suatu kali saya mendapat perintah dari atasan di  kantor untuk memanggil salah seorang rekan kerja saya untuk segera menghadapnya. Ketika saya menyampaikan pesan ini dengan menyebut nama atasan tersebut, reaksinya terlihat jelas. Ekspresi wajahnya tampak terkejut, dan ia tergesa-gesa menuju kantor atasan.

Bartimeus, pengemis yang buta itu, memahami benar betapa berkuasanya nama Yesus. Sekalipun tidak melihat, namun ia mendengar dan percaya! Ya, ia hanya mendengar dari cerita orang tentang Yesus yang telah melakukan banyak mujizat kesembuhan. Dari mendengar, Bartimeus beriman. Iman itulah yang memberinya keyakinan bahwa Yesus mampu memberinya kesembuhan. Ketika kesempatan itu tiba, saat didengarnya bahwa Yesus tiba di Yerikho dan akan melewatinya, ia pun mulai memanggil-Nya dengan suara keras, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah Aku!” (ay. 47). Imannya kepada nama Yesus, nama yang penuh kuasa itu, terbukti memberinya kesembuhan. Iman itu memberinya mukjizat (ay. 52).

Kita dengan mudah mengucapkan nama Yesus dalam lagu pujian atau doa kita. Setiap kali kita mengakhiri sebuah doa, kita akan berkata, “Dalam nama Yesus atau demi nama Yesus. Amin!” Tahukah kita bahwa penyebutan nama itu bukanlah sekadar pengakuan kosong, tetapi sebuah pengakuan iman bahwa Dia berkuasa dan hadir dalam diri kita? Marilah kita menyadari betapa mulianya nama Yesus itu sehingga kita memberikan penghormatan yang selayaknya.–SYS

NAMA YESUS ADALAH NAMA YANG PENUH KUASA


Sudahkah saudara percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat pribadi yang mengampuni dosa-dosa saudara?

new creation

Bagaimana kamu mengenal kasih Tuhan tidak bersyarat?” bahkan istilah ‘Kasih tak bersyarat’ tidak ada dalam Alkitab!! Sebuah pertanyaan yang sangat wajar, yang menusuk langsung ke jantung dari pesan kasih karunia!  Kasih Karunia mengatakan bahwa Allah mengasihi kita tanpa syarat… Tetapi dengan melihat seklias dari beberapa isi Alkitab, maka kita menemukan bahwa kadang-kadang ada “hal-hal” yang merancukan pemahaman ‘kasih tak bersyarat’ ini. Dalam satu bagian, Tuhan menunjukkan diriNya sebagai Allah yang cemburu, yang mengasihi mereka yang mengasihi Dia, tetapi menghukum mereka yang tidak mengasihi (coba baca Kel 20:5-6).

 

Namun meskipun ada beberapa ayat ini yang mengatakan sebaliknya (saya akan bahas ini artikel lainnya), saya 100% yakin bahwa Allah mengasihi kita tanpa syarat, dan saya berdoa kamu juga harus yakin 100%.

 

Sekarang, saya akan tunjukkan 7 (tujuh) alasan untuk menyimpulkan bahwa Allah mengasihi kita tanpa syarat:

 

(1) Cinta, menurut definisinya sendiri, memang berarti =  tanpa syarat

“Allah adalah kasih (agape).” (1 Yoh 4:16)

Kamu mungkin tahu beberapa kata yang berbeda untuk “kasih” dalam bahasa Yunani. Kamu bahkan mungkin tahu bahwa cinta agape mengacu pada makna “tanpa syarat, mengorbankan diri, dan aktif“. Tapi apakah kamu tahu bahwa kasih agape bersifat unik dalam konteks Allah? Ini bukan sebuah bentuk cinta yang manusia miliki. Jika pengalaman cinta kamu terbatas pada apa yang kamu terima dari orang, kemungkinan kamu menemukan cinta rapuh yang kadang-kadang datang dengan harapan dan penundaan. Tapi kasih Tuhan tidak seperti ini. Sebagaimana akan kita lihat, kasih-Nya tidak seperti kasih yang kita jumpai di dunia ini.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s