Sebagian Alasan Kenapa Dokter Dokter Di Negara Maju “pelit” Kasih Obat ke Anak yg Sakit

Sebagian Alasan Kenapa Dokter Dokter Di Negara Maju “pelit” Kasih Obat ke Anak yg Sakit

** Dimana Salahnya?**

Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya kian tirus. Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi. Biasanya aku selalu mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini tersenyum pun ia tak mau. Sesekali ia muntah. Dan setiap melihatnya muntah, hatiku …tergores-gores rasanya. Lambungnya diperas habis-habisan seumpama ampas kelapa yang tak lagi bisa mengeluarkan santan. Pedih sekali melihatnya terkaing-kaing seperti itu.

Waktu itu, belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak juga ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dokter Knol namanya.

“Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection.” kata dokter tua itu.

“Ha? Just wait and see? Apa dia nggak liat anakku dying begitu?” batinku meradang. Ya…ya…aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain. Dikasih obat juga enggak! Huh! Dokter Belanda memang keterlaluan! Aku betul-betul menahan kesal.

“Obat penurun panas Dok?” tanyaku lagi.
“Actually that is not necessary if the fever below 40 C.”

Waks! Nggak perlu dikasih obat panas? Kalau anakku kenapa-kenapa memangnya dia mau nanggung? Kesalku kian membuncah.
Tapi aku tak ingin ngeyel soal obat penurun panas. Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat jenis lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu aku membawa setumpuk obat-obatan dari Indonesia, termasuk obat penurun panas.
Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya juga bertambah. Aku segera kembali ke dokter. Tapi si dokter tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium baru akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.

“Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok,” kataku.
Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. “Apakah dia sudah minum suatu obat?”

Aku mengangguk. “Ibuprofen syrup Dok,” jawabku.

Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,”Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja.”

Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku betul-betul jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau! Nah kalau buat anak nggak baik kenapa di Indonesia obat itu bertebaran! Batinku meradang.
Untungnya aku masih bisa menahan diri. Tapi setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku.”Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya je. Mau 37 keq, 38 apa 39 derajat keq, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Sirup ibuprofen juga dikasih koq ke anak yang panas, bukan cuma parasetamol. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!” Seperti rentetan peluru, kicauanku bertubi-tubi keluar dari mulutku.

“Mana Malik nggak dikasih apa-apa pulak, cuma suruh minum parasetamol doang, itu pun kalau suhunya diatas 40 derajat C! Duuh memang keterlaluan Yah dokter Belanda itu!”

Suamiku menimpali, “Lho, kalau Mama punya alasan, kenapa tadi nggak bilang ke dokternya?”
Aku menarik napas panjang. “Hmm…tadi aku sudah kadung bete sama si dokter, rasanya ingin buru-buru pulang saja. Tapi…alasannya apa ya?”

Mendadak aku kebingungan. Aku akui, sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek apa yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi hanya secuil-secuil ilmu yang kudapat. Persis seperti orang yang katanya travelling keliling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, lalu dua hari pergi ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas beberapa hari berdiam di Berlin dan Swiss, kemudian waktu habis. Tibalah saatnya pulang lagi ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama saja. Masih banyak sekali negara dan kota-kota di Eropa yang belum disambanginya. Dan itu lah yang terjadi pada kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah kadang-kadang apa yang sudah kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng seperti dokter-dokter senior, akhirnya kami pun sering mengintip resep ajian senior!

Setelah Malik sembuh, beberapa minggu kemudian, Lala, putri pertamaku ikut-ikutan sakit. Suara Srat..srut..srat srut dari hidungnya bersahut-sahutan. Sesekali wajahnya memerah gelap dan bola matanya seperti mau copot saat batuknya menggila. Kadang hingga bermenit-menit batuknya tak berhenti. Sesak rasanya dadaku setiap kali mendengarnya batuk. Suara uhuk-uhuk itu baru reda jika ia memuntahkan semua isi perut dan kerongkongannya. Duuh Gustiiii…kenapa tidak Kau pindahkan saja rasa sakitnya padaku Nyerii rasanya hatiku melihat rautnya yang seperti itu. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia pada putriku. Tapi batuknya tak kunjung hilang dan ingusnya masih meler saja. Lima hari kemudian, Lala pun segera kubawa ke huisart. Dan lagi-lagi dokter itu mengecewakan aku.

“Just drink a lot,” katanya ringan.

Aduuuh Dook! Tapi anakku tuh matanya sampai kayak mata sapi melotot kalau batuk, batinku kesal.

“Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?” tanyaku tak puas.

“This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik,” jawabnya lagi.

Ggrh…gregetan deh rasanya. Lalu ngapain dong aku ke dokter, kalo tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq! omelku dalam hati.
“Lalu Dok, buat batuknya gimana Dok? Batuknya tuh betul-betul terus-terusan,” kataku ngeyel.

Dengan santai si dokter pun menjawab,”Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak koq.”
Hmm…lumayan lah… kali ini aku pulang dari dokter bisa membawa obat, walau itu pun harus dengan perjuangan ngeyel setengah mati dan walau ternyata isi obat Thyme itu hanya berisi ekstrak daun thyme dan madu.

“Kenapa sih negara ini, katanya negara maju, tapi koq dokternya kayak begini.” Aku masih saja sering mengomel soal huisart kami kepada suamiku. Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Jadi yang ada di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia. Di Indonesia, anak-anakku punya langganan beberapa dokter spesialis anak. Dokter-dokter ini pernah menjadi dosenku ketika aku kuliah. Maklum, walaupun aku lulusan fakultas kedokteran, tapi aku malah tidak pede mengobati anakanakku sendiri. Dan walaupun anak-anakku hanya menderita penyakit sehari-hari yang umum terjadi pada anak seperti demam, batuk pilek, mencret, aku tetap membawa mereka ke dokter anak. Meski baru sehari, dua atau tiga hari mereka sakit, buru-buru mereka kubawa ke dokter. Tak pernah aku pulang tanpa obat. Dan tentu saja obat dewa itu, sang antibiotik, selalu ada dalam kantong plastik obatku.

Tak lama berselang putriku memang sembuh. Tapi sebulan kemudian ia sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini termasuk ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit. Karena khawatir ada yang tak beres, lagi-lagi aku membawanya ke huisart.

“Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya, kenapa ya Dok.?

Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,”Nothing to worry. Just a viral infection.”

Aduuuh Doook… apa nggak ada kata-kata lain selain viral infection seh! Lagilagi aku sebal.

“Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok,” aku ngeyel seperti biasa.

Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. “Do you know how many times normally children get sick every year?”

Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. “enam kali,” jawabku asal.

“Twelve time in a year, researcher said,” katanya sambil tersenyum lebar. “Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat,” sambungnya.
Glek! Aku cuma bisa menelan ludah. Dijawab dengan data-data ilmiah seperti itu, kali ini aku pulang ke rumah dengan perasaan malu. Hmm…apa aku yang salah? Dimana salahnya? Ah sudahlah…barangkali si dokter benar, barangkali memang aku yang selama ini kurang belajar.

Setelah aku bisa beradaptasi dengan kehidupan di negara Belanda, aku mulai berinteraksi dengan internet. Suatu saat aku menemukan artikel milik Prof. Iwan Darmansjah, seorang ahli obat-obatan dari Fakultas Kedokteran UI. Bunyinya begini: “Batuk – pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 – 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 – 3 minggu selama bertahun-tahun.” Wah persis seperti yang dikatakan huisartku, batinku. Dan betul anak-anakku memang sering sekali sakit sewaktu di Indonesia dulu.

“Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya,” Lanjut artikel itu. “Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 – 3 minggu dan perlu berobat lagi.

Lingkaran setan ini: sakit –> antibiotik-> imunitas menurun -> sakit lagi, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun.”

Hwaaaa! Rupanya ini lah yang selama ini terjadi pada anakku. Duuh…duuh..kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari kesalahan yang kubuat sendiri pada anak-anakku. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho! Masa sih aku tak percaya kepada mereka. Dan rupanya, setelah di Belanda ‘dipaksa’ tak lagi pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak sehari-hari, sekarang kondisi anak-anakku jauh lebih baik. Disini, mereka jadi jarang sakit, hanya diawal-awal kedatangan saja mereka sakit.

Kemudian, aku membaca lagi artikel-artikel lain milik prof Iwan Darmansjah. Dan di suatu titik, aku tercenung mengingat kata-kata ‘pengobatan rasional’. Lho…bukankah dulu aku juga pernah mendapatkan kuliah tentang apa itu pengobatan rasional. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yang selama ini kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan pada anak-anakku, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan seperti, batuk, pilek, demam, mencret, aku sudah panik dan segera membawa anak ke dokter, serta sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional! Hmm… kalau begitu, sistem kesehatan di Belanda adalah sebuah contoh sistem yang menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.

Belakangan aku pun baru mengetahui bahwa ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga di banyak negara termasuk Amerika Serikat, ibuprofen dipakai secara luas untuk anakanak. Tetapi karena resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen juga tersedia di apotek dan boleh digunakan untuk usia anak diatas 6 bulan, namun di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama pada anak yang mengalami demam. “Duh, untung ya Yah aku nggak bilang ke huisart kita kalo aku ini di Indonesia adalah seorang dokter. Kalo iya malu-maluin banget nggak sih, ketauan begonya hehe,” kataku pada suamiku.

Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan, ceritanya bisa lain. Karena kekurangan dan ketidakmampuan, untuk kasus penyakit anak sehari-hari, orang-orang desa itu malah relatif ‘terlindungi’ dari paparan obat-obatan yang tak perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar, yang cukup berduit, sudah melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Batuk pilek sedikit ke dokter, demam sedikit ke dokter, mencret sedikit ke dokter. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, ‘memaksa’ agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter ‘menjual’ obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.

Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?

Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Uh! Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!

Tapi yang pasti kini aku sadar…telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya ‘hanya’ untuk konsultasi, memastikan diagnosa penyakit anakku dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja.

Tapi di Indonesia, bukankah paradigma yang masih kerap dipegang adalah ke dokter = dapat obat? Sehingga tak jarang dokter malah tidak bisa bertindak rasional karena tuntutan pasien. Aku juga sadar sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi. Intinya, sistem kesehatan yang ada di Indonesia saat ini membuat dokter menjadi sulit untuk bersikap rasional.

Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Ah rasanya percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya. Menunjuk siapa yang salah pun tak ada gunanya. Tapi kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Yang pasti, sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Siapa bilang pasien tak punya kekuatan untuk merubah sistem kesehatan? Setidaknya, bila pasien ‘bergerak’, masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.

Dikutip dari buku “Smart Patient” karya dr. Agnes Tri Harjaningrum

——————————————————————————————————————————

Setiap penyakit yang muncul sesungguhnya merupakan akumulasi dari sel-sel yang rusak, saat sel yang rusak ini masih sedikit gejala sakit masih belum terlihat, tetapi apabila sel yang rusak ini bertambah banyak maka akan menyebabkan jaringan dan organ tubuh menjadi rusak dan membuat kita menunjukkan gejala sakit. PROPOLIS Membantu proses peremajaan (regenerasi) sel, juga dapat mempertahankan dan menjaga stamina tubuh, meningkatkan sistem imunitas, termasuk mencegah dan mengobati penyakit-penyakit sbb:

Sakit kepala, migrain, rambut rontok, insomnia, stress akibat tekanan kerja, rambut beruban, ketombe, mata merah, infeksi mata, infeksi hidung, sakit kerongkongan dan tenggorokan, infeksi telinga, gusi berdarah, sakit gigi, tumor otak, stroke, gangguan syaraf dan gagap, sinusitis, katarak, telinga bernanah, epilepsi, dan sebagainya.

Kesuburan, keracunan, batu ginjal, ketergantungan narkoba dan rokok, kena bisa hewan berbisa, rabies, kencing manis, kencing tidak lancar, Ketegangan bahu, kegemukkan, rematik, pegal linu, lemah, letih dan lesu, asam urat, TBC, sakit paru-paru, asma, sesak nafas, tuberkulosis (batuk kering), batuk berdahak, demam, masalah jantung, hati, sistem percernaan, masalah hati dan limpa, kolon, perut, ulser, wasir, fibroid, sembelit, Sindrom Pra-haid (PMS), sakit punggung, flu , kejang, saraf, tekanan darah tinggi/rendah, diabetes, kanker, sendi, kolesterol, menambah nafsu makan, lupus, dan sebagainya.

keriput, masalah kulit, luka kering/mengelupas, bintik-bintik, cacar air, kutu air, bisul, jerawat hitam, eksim, panu, kadas, kurap, luka bedah, luka bakar, herpes, dan sebagainya.

 

PRINSIP UMUM CARA PAKAI :

PROPOLIS adalah Minuman Kesehatan Alami yang bersifat OBAT, di bawah ini adalah aturan umum sebelum minum PROPOLIS, Untuk diminum :

1. Gunakan air bersuhu kamar/air hangat untuk melarutkan PROPOLIS .

2. Teteskan PROPOLIS sesuai keperluan dan kemudian diaduk secara sempurna.

Untuk di luar tubuh

Oleskan PROPOLIS secukupnya pada bagian yang akan diobati

Untuk diteteskan ke mata, Encerkan 1 tetes PROPOLIS dengan 1-2 ml air, kemudian diteteskan di mata.

TABEL praktis penanganan penyakit
Dengan PROPOLIS

No

(1)

Sistem atau Organ yang bermasalah

(2)
Gejala yang muncul dari terganggunya sistem dan organ tersebut atau Jenis penyakit yang muncul dari gangguan pada organ tubuh manusia

(3)Dosis PROPOLIS untuk dewasa

(4)
Dosis PROPOLIS untuk anak-anak dibawah 12 tahun, wanita hamil, manula diatas 60 tahun dan dewasa penderita yang sudah kronis (menahun) seperti asma, jantung dan gagal ginjal

1

Sistem pencernaan

– Buang air besar tidak teratur
– Sariawan
– Jerawat
– Sering pusing
– Sulit buang angin
– Alergi/gatal-gatal

Mulai dengan 5 tetes 3 kali sehari dan terus ditingkatkan secara bertahap sampai maksimum 30 tetes 3 kali sehari

Apabila terjadi serangan penyakit mendadak dan akut
Minum PROPOLIS 15 – 15 tetes tiap jam sampai rasa sakit reda

Mulai dengan 2 tetes 3 kali sehari dan terus ditingkatkan secara bertahap sampai maksimum 15 tetes 3 kali sehari

Apabila terjadi serangan penyakit mendadak dan akut
Minum PROPOLIS 5 tetes tiap jam sampai rasa sakit reda

2

Hati – Kembung

– Bangun pagi terasa pegal
– Mudah mengantuk
– Mudah lelah
– Mudah terserang flu
– Mudah masuk angin

3

Jantung – nyeri di dada

– sering kesemutan/kram
– tangan dan kaki mudah berkeringat
– kaki mudh bengkak
– sesak nafas

4

Paru-paru – Sesak nafas

– Sering batuk – batuk
– Sering ada lendir di pagi hari
– Alergi

5

Ginjal

– Buang air kecil keruh
– Sering merasa pegal di pinggang atau ada rasa panas dipinggang
– Asam urat
– Tekanan darah tinggi
– Sakit kepala
– Telinga berdengung

6

Pancreas

– sering merasa haus
– sering merasa lapar
– sering buang air kecil
– kesemutan
– terasa panas ditelapak kaki
– cepat letih, lelah dan lesu
– vitalitas sex menurun
– sering mangalami penurunan berat badan secara drastis
– apabila ada luka lama sembuh

Mulai dengan 5 tetes 3 kali sehari dan terus ditingkatkan secara bertahap sampai maksimum 30 tetes 3 kali sehari

Apabila terjadi serangan penyakit mendadak dan akut
Minum PROPOLIS 15 tetes tiap jam sampai rasa sakit reda

Mulai dengan 2 tetes 3 kali sehari dan terus ditingkatkan secara bertahap sampai maksimum 15 tetes 3 kali sehari

Apabila terjadi serangan penyakit mendadak dan akut
Minum PROPOLIS 5 tetes tiap jam sampai rasa sakit reda

7

Gangguan pada tulang

– tulang lemah
– rematik
– osteoporosis
– kesemutan
– nyeri sendi

8

Reproduksi

– timbul rasa sakit saat menstruasi
– mentruasi tidak teratur
– sering keputihan
– sering pusing
– kulit menjadi kering
– gairah seksualitas menurun
– sulit punya keturunan

9

Cancer pada organ tubuh

– cancer rahim
– cancer payudara
– cancer kelenjar
– cancer paru-paru
– cancer otak
– cancer tulang
– dan lain-lain cancer

10

Gangguan pembuluh darah

– darah tinggi
– darah rendah
– stroke
– vertigo
– kolesterol
– wasir
– Aneurisma

11

Gangguan saraf

– autisme
– hiperaktif
– lupa ingatan (amnesia)
– alzeimer
– lemah daya tangkap
– stress
– gila
– ayan

12

Gangguan pada darah

– Anemia
– Talasemia
– Leukeumia
– Lupus
– Kegemukan / obesitas

13

Serangan virus, dan bakteri pada organ tubuh – Demam berdarah

– Influenza
– Flu burung
– Antrax
– Disentri
– Diare
– Typhus
– Herves
– Cikungunya
– SARS, dll

Minum Propolis minimal 15 tetes setiap satu jam sekali hingga sembuh

Minum Propolis minimal 5 tetes setiap satu jam sekali hingga sembuh

14

Kerusakan mendadak pada organ tubuh – keracunan makanan, obat-obatan dan pestisida

– Terkena racun binatang berbisa
– Terbentur benda keras
– Tertusuk paku
– Tersiram air panas
– terbakar
– Patah tulang
– Kecelakaan lalulintas, dll

Minum PROPOLIS sebanyak minimal 30 tetes untuk pertama kali dan selanjutnya minum sebanyak 15 tetes untuk tiap jamOleskan PROPOLIS secukupnya pada luka yang ada minimal 2 kali sehari

Minum PROPOLIS sebanyak minimal 20 tetes untuk pertama kali dan selanjutnya minum sebanyak 10 tetes untuk tiap jamOleskan PROPOLIS secukupnya pada luka yang ada minimal 2 kali sehari

15

Gangguan pada mata

– mata plus, minus, silindris
– katarak
– mata merah (konjunctivitis)
– glaukoma
– rabun senja
– alergi sinar
– mata berair, dll

– Encerkan 5 tetes propolis dengan 10 ml air, kemudian jadikan sebagai obat tetes mata minimal 3 kali sehari. Selain itu minum minimal 5 tetes PROPOLIS 3 kali sehari

Encerkan 5 tetes propolis dengan 10 ml air, kemudian jadikan sebagai obat tetes mata minimal 3 kali sehari. Selain itu minum minimal 5 tetes PROPOLIS 3 kali sehari

16

Gangguan di kulit kepala

– Ketombe
– rambut rontok
– rambut beruban
– kebotakan
– dll

Encerkan 5 tetes propolis dengan 10 ml air, kemudian jadikan sebagai minyak rambut minimal 3 kali sehari. Selain itu minum minimal 5 tetes PROPOLIS 3 kali sehari

Encerkan 5 tetes propolis dengan 10 ml air, kemudian jadikan sebagai minyak rambut minimal 3 kali sehari. Selain itu minum minimal 5 tetes PROPOLIS 3 kali sehari

17

Permasalah-an pada hidung dan telinga

– sinusitis
– polip
– telingan bernanah
– radang telinga luar
– radang telinga dalam
– flu menahun, dll

Minum PROPOLIS 10-15 tetes 3 kali sehari saat perut kosong, setelah itu diteteskan di hidung atau telinga 2-3 tetes sehari sekali

Minum PROPOLIS 5-10 tetes 3 kali sehari saat perut kosong, setelah itu diteteskan di hidung atau telinga 1-2 tetes sehari sekali

18

Permasalah pada gigi dan mulut

– Sakit gigi
– Karang gigi
– Gusi berdarah
– Bau mulut
– Sariawan

teteskan langsung PROPOLIS pada bagian yang sakit. Dan jadikan Propolis sebagai obat kumur dan campurkan Propolis pada pasta gigi dan gunakan untuk sikat gigi

Teteskan langsung PROPOLIS pada bagian yang sakit. Dan jadikan Propolis sebagai obat kumur

19

Gangguan pada kulit

– Jerawat
– Kutu air
– Bisul
– Flek hitam
– Panu
– Psoriasis
– Luka

Oleskan PROPOLIS secukupnya minimal dua kali sehari
Atau
Encerkan 5 tetes propolis dengan 10 ml air, kemudian oleskan pada bagian yang bermasalah minimal 3 kali sehari.

Oleskan PROPOLIS secukupnya minimal dua kali sehari
Atau
Encerkan 5 tetes propolis dengan 10 ml air, kemudian oleskan pada bagian yang bermasalah minimal 3 kali sehari.

20

Orang sehat

Berfungsi sebagai pencegahan (preventif) dan menguatkan stamina tubuh

Minum PROPOLIS 5-10 tetes dua kali sehari sebelum sarapan dan sebelum tidur malam hari

Minum PROPOLIS 2-3 tetes dua kali sehari sebelum sarapan dan sebelum tidur malam hari

21

Kesehatan ibu menyusui

– Melancakan Asi
– Membersihkan darah
– Pemulihan pasca operasi
– Mengencangkan kulit

Minum PROPOLIS minimal 10 tetes 3 kali sehariSering-sering mandi menggunakan air propolis

“Semua Jadi Mudah”
www.BeeneroNetwork.com | Telp/SMS : 081356998898 (MAXY)
Team Leader Beenero Manado : http://teamleaderbeeneromanado.wordpress.com/
Leader Sumatera Barat https://newpropolis.wordpress.com/
Leader Jambi http://beenerojambi.wordpress.com/
Leader Riau http://propolisasli.wordpress.com/

__________________________________________________________________

Efek/Reaksi Tindak Balas Propolis

BEENERO Propolis yang distribusikan oleh PT BEENERO Indonesia mempunyai
reaksi dengan kecepatan yang luar biasa. Reaksi propolis untuk penyakit
tertentu, dapat dirasakan hanya dalam hitungan menit. Reaksi tersebut
kadang-kadang menyebabkan rasa kurang nyaman pada tubuh, misalnya:

Tindak Balas Setelah konsumsi Propolis

Permasalahan kesehatan/penyakit/indikasi

Bersin, gatal pada hidung

Permasalahan pada hidung, polip atau sinusitis

Wajah terasa panas, tekanan darah naik sesaat, demam, pusing

Permasalahan pada system sirkulasi darah, darah tingi

Kulit kaki terasa tebal dan dingin, sebagian badan terasa dingin, jantung berdebar

Tekanan darah rendah, kurang darah

Susah buang air besar, mencret, berak berlendir, berak berdarah

Radang pada usus besar, gangguan pada usus, hemoroid

Mual, sering buang air besar, muntah

Obesitas, gangguan pada lambung, proses penyembuhan gangguan pencernaan.

Bengkak, gatal

Alergi

Muncul kotoran pada mata, gatal, keluar air mata

Gangguan pada mata

Mimpi buruk, gelisah, susah tidur

Gangguan pada system syaraf dan kepala

Lelah, susah tidur, sakit pada sendi

Gangguan pada persendian, proses penyembuhan rheumatik

Pegal-pegal

Proses pembuangan racun dan pembersihan zat-zat dalam pembuluh darah

Kejang-kejang

Proses penyembuhan peradangan ginjal.

Bèsèr

Proses pembuangan racun lewat air senih

Kulit mengeras, muncul jerawat

Permasalahan pada kulit

Rasa sakit pada punggung, sakit didada

Permasalahan pada jantung

Mual, letih, keringat dingin

Permasalahan pada perut

Keletihan, ngantuk

Permasalahan pada hati

Bengkak kaki, skt pinggang, susah buang air kecil

Permasalahan ginjal

Batuk, kedinginan, sakit kerongkongan, demam

proses pengeluaran racun lewat dahak dan perbaikan fungsi paru-paru, permasalahan pada paru-paru, asma

Demam, susah tidur, terdapat pembengkakan, ada pendarahan, tinja berwarna hitam

Tumor, cancer, proses pengikatan virus dan bakteri atau indikasi bahwa di dalam tubuh teralu banyak virus dan bakteri.

Ngantuk, diare, gula darah naik, selera makan turun

Permasalahan Hati, limpa, pankreas, proses penyembuhan fungsi hati dan detoksifikasi tubuh.

Haus, keringat berbau, kenaikan kadar gula sesaat.

Gangguan pada pancreas, diabetes

Ingin segera LANGSUNG PESAN PRODUKNYA? klik tombol berikut ini :

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s